Belajar Dari Grameen Bank
Oleh : Oki Hajiansyah (Mahasiswa Program Pasca Sarjana Universitas Lampung)
Peraih Nobel tahun 2006 Mohammad Yunus baru-baru ini datang ke
Bangladesh dan Kemiskinan
Kiprah Yunus memberdayakan kaum miskin dilatarbelakangi kemiskinan dan kelaparan yang melanda
Sejak Tahun 1976, Yunus mentransformasi lembaga kreditnya menjadi sebuah bank formal dengan aturan khusus bernama Grameen Bank atau Bank Desa dalam bahasa Bengali. Yunus merintis sistem kredit mikro yang memberikan pinjaman lunak kepada orang miskin agar dapat mengembangkan usaha. Kredit mikro ini diberikan kepada orang miskin yang tidak mendapat pinjaman dari bank komersial. Grameen Bank memfokuskan pinjaman pada perempuan.
Untuk menjamin pembayaran dari para nasabahnya , Grameen Bank menggunakan sistem yang dinamakan grup solidaritas. Grup-grup kecil ini bersama-sama mengajukan pinjaman, di dalamnya terdapat anggota yang bertindak sebagai penjamin pembayaran. Pinjaman ini mirip dana bergulir, di mana ketika satu anggota telah berhasil mengembalikan pinjaman, akan digunakan oleh anggota lainnya.
Grameen Bank juga pernah meluncurkan program yang dinamakan The Struggling (Beggar) Members Program", yang membidik para pengemis di
Kini modal bank ini 94 persen dimiliki nasabah, yakni kaum miskin, dan sisanya dimiliki pemerintah. Bank tersebut kini mampu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin yang menjadi peminjamnya. Sejak berdiri Grameen Bank sudah mengucurkan 290,03 miliar taka (mata uang Banglades) setara 5,72 miliar dollar AS sejak berdiri. Hebatnya lagi Grameen Bank juga selalu mengantongi laba setiap tahun sejak didirikan, kecuali pada tahun 1983, 1991, dan 1992.
Belajar dari Yang Maju
Kemiskinan menurut filosofi Grameen Bank bukan hanya disebabkan oleh minimnya keterampilan . Keterampilan tidak berbanding lurus dengan kualitas hidup seseorang. Menurut filosofi Grameen Bank juga keluarnya seseorang dari kemiskinan menuntut inisiatif dan kreativitas. Grameen Bank merancang kredit mikro berbasis kepercayaan bukan kontrak legal. Metodologi ini dirancang guna mendorong rasa tanggung jawab dan solidaritas terhadap sesama peminjam dalam satu komunitas. Grameen Bank berhasil mengembangkan konsep community development (pengembangan komunitas), dengan penguatan dari sisi coaching weekly (pembinaan mingguan), serta pemberlakuan konsep tanggung-renteng.
Pengalaman Grameen Bank itu kemudian membuktikan bahwa pemberian kredit ke kaum miskin bukanlah suatu yang mustahil. Kredit pada kaum miskin itu juga berperan memotong lingkaran kemiskinan. Program Grameen Bank juga sudah membuktikan dirinya dalam mengentaskan kemiskinan di Banglades. Kredit mikro tidak hanya memengaruhi kesejahteraan peserta program, tetapi juga indeks kesejahteraan di tingkat desa. Di Banglades sendiri program ini telah mendorong 42 persen peminjam ke atas garis kemiskinan.
Laporan World Bank tahun 2005 menyatakan bahwasanya Bangladesh telah membuat kemajuan mengesankan dalam pengembangan manusia dengan berfokus pada tingkat melek huruf yang bertambah, memperoleh kesetaraan jender pada dalam sekolah, dan mengurangi pertumbuhan penduduk. Tentunnya sedikit banyaknya ini adalah dampak dari gerakan ekonomi kerakyatan yang dilakukan Grameen Bank lewat pengembangan kredit ekonomi makro. Bahkan, World Bank yang sebelumnya memandang program ini secara sebelah mata kini mulai mengadopsi gagasan kredit ini. Lebih dari 17 juta orang miskin di seluruh dunia telah terbantu dengan program kredit mikro ini. Gerakan pemberdayaan kaum miskin yang diprakarsai Muhammad Yunus kini diadopsi oleh lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat miskin di seluruh dunia.
Pengalaman Grameen Bank tentunnya patut dicermati sebagai satu alternatif metodologi dalam mengentaskan kemiskinan di
Artinya saatnya pemerintah kita mencoba mereplikasi keberhasilan program Grameen Bank dalam pengentasan kemiskinan di
Berbagai strategi yang dilakukan pemerintah mulai dari Jaring Pengaman Sosial (JPS), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) seringkali bersifat parsial atau sementara sehingga dampaknya tidak bersifat jangka panjang sehingga kemiskinan sulit diatasi. Disisi lain kalangan Perbankan juga tidak pernah memberikan akses dan kepercayaan terhadap usaha kecil dan menengah untuk mendapatan kredit dengan murah. Akhirnya kalo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar