Senin, 03 Maret 2008

Belajar Dari Grameen Bank

Belajar Dari Grameen Bank

Oleh : Oki Hajiansyah (Mahasiswa Program Pasca Sarjana Universitas Lampung)

Peraih Nobel tahun 2006 Mohammad Yunus baru-baru ini datang ke Indonesia. Yunus datang atas undangan khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengisi acara Presidential Lecture, yakni acara kuliah umum yang digelar SBY setiap beberapa bulan sekali . Yunus diundang dalam kapasitasnya sebagai pemenang Nobel Perdamaian 2006 atas kesuksesannya dalam hal pemberantasan kemiskinan di Bangladesh lewat program kredit mikro. Dalam acara tersebut SBY juga mengajak menteri-menteri kabinetnya,beberaa direktur bank untuk ikut serta. SBY tentunnya terobsesi dengan apa yang dilakukan oleh Yunus sehingga berhasil membantu rakyat miskin, khususnya kaum perempuan menjadi lebih sejahtera.

Bangladesh dan Kemiskinan

Bangladesh adalah sebuah negara miskin di Asia Selatan yang mendapatkan kemerdekaannya dari Pakistan pada tahun 1971. Bangladesh yang berpenduduk 147 juta orang merupakan salah satu negara yang terpadat di dunia. Menurut Laporan Unicef GNP Bangladesh pada tahun 2004 kurang dari US$440, hampir separuh penduduknya hidup kurang dari 1 USD per hari. Sebagian besar orang Bangladesh tinggal di pedesaan dan hidup dengan pertanian untuk menyambung hidup. Sebagian besar penerimaan mata uang asing juga berasal dari pengiriman uang yang dikirimkan oleh para ekspatriat yang tinggal di negara lain (Bangladesh Country Statistics, Unicef).

Kiprah Yunus memberdayakan kaum miskin dilatarbelakangi kemiskinan dan kelaparan yang melanda Bangladesh pada tahun 1974, Sebagai profesor ekonomi, dia memimpin para mahasiswa untuk berkunjung ke desa-desa miskin di Bangladesh. Yunus mulai mengembangkan program kredit mikro tanpa agunan untuk kaum miskin yang tidak dapat mengakses pinjaman bank. Program ini menjadi semacam gugatan Yunus terhadap ketidakadilan yang dilakukan oleh bank terhadap kaum miskin. Menurut Yunus kesalahan terbesar yang dilakukan bank-bank selama ini karena mereka hanya mau meminjamkan uang atau membuka kran kredit kepada orang yang sudah punya "uang" dalam arti penghasilan dan aset.

Sejak Tahun 1976, Yunus mentransformasi lembaga kreditnya menjadi sebuah bank formal dengan aturan khusus bernama Grameen Bank atau Bank Desa dalam bahasa Bengali. Yunus merintis sistem kredit mikro yang memberikan pinjaman lunak kepada orang miskin agar dapat mengembangkan usaha. Kredit mikro ini diberikan kepada orang miskin yang tidak mendapat pinjaman dari bank komersial. Grameen Bank memfokuskan pinjaman pada perempuan. Ada dua misi dari aksi afirmatif ini. Pertama, pemberdayaan perempuan dengan meningkatkan posisi tawar mereka, baik di ruang privat maupun publik. Kedua, peningkatan kualitas hidup anak. Riset membuktikan, peningkatan ekonomi perempuan berbanding lurus dengan tingkat pendidikan dan kesehatan anak. Pemberdayaan ekonomi perempuan, misalnya, berhubungan langsung dengan turunnya angka kematian bayi dan malnutrisi. Ini turut memastikan, generasi berikut tetap bertahan di atas angka kemiskinan.

Untuk menjamin pembayaran dari para nasabahnya , Grameen Bank menggunakan sistem yang dinamakan grup solidaritas. Grup-grup kecil ini bersama-sama mengajukan pinjaman, di dalamnya terdapat anggota yang bertindak sebagai penjamin pembayaran. Pinjaman ini mirip dana bergulir, di mana ketika satu anggota telah berhasil mengembalikan pinjaman, akan digunakan oleh anggota lainnya.

Grameen Bank juga pernah meluncurkan program yang dinamakan The Struggling (Beggar) Members Program", yang membidik para pengemis di Bangladesh. Ini merupakan inisiatif yang diambil Grameen Bank untuk kampanye berkelanjutan pengentasan kemiskinan. Kini Grameen Bank telah memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa serta 18.795 orang pegawai. Grameen Bank juga telah meminjamkan sekitar 3 miliar dollar AS. Total kredit yang telah dikucurkan, sebesar 98,85 persen kembali dan uniknya seluruh kredit yang dikucurkan adalah dalam bentuk non-collateral loan alias pinjaman tanpa agunan. (Kompas, 18 Oktober 2006).

Kini modal bank ini 94 persen dimiliki nasabah, yakni kaum miskin, dan sisanya dimiliki pemerintah. Bank tersebut kini mampu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin yang menjadi peminjamnya. Sejak berdiri Grameen Bank sudah mengucurkan 290,03 miliar taka (mata uang Banglades) setara 5,72 miliar dollar AS sejak berdiri. Hebatnya lagi Grameen Bank juga selalu mengantongi laba setiap tahun sejak didirikan, kecuali pada tahun 1983, 1991, dan 1992.

Belajar dari Yang Maju

Kemiskinan menurut filosofi Grameen Bank bukan hanya disebabkan oleh minimnya keterampilan . Keterampilan tidak berbanding lurus dengan kualitas hidup seseorang. Menurut filosofi Grameen Bank juga keluarnya seseorang dari kemiskinan menuntut inisiatif dan kreativitas. Grameen Bank merancang kredit mikro berbasis kepercayaan bukan kontrak legal. Metodologi ini dirancang guna mendorong rasa tanggung jawab dan solidaritas terhadap sesama peminjam dalam satu komunitas. Grameen Bank berhasil mengembangkan konsep community development (pengembangan komunitas), dengan penguatan dari sisi coaching weekly (pembinaan mingguan), serta pemberlakuan konsep tanggung-renteng.

Pengalaman Grameen Bank itu kemudian membuktikan bahwa pemberian kredit ke kaum miskin bukanlah suatu yang mustahil. Kredit pada kaum miskin itu juga berperan memotong lingkaran kemiskinan. Program Grameen Bank juga sudah membuktikan dirinya dalam mengentaskan kemiskinan di Banglades. Kredit mikro tidak hanya memengaruhi kesejahteraan peserta program, tetapi juga indeks kesejahteraan di tingkat desa. Di Banglades sendiri program ini telah mendorong 42 persen peminjam ke atas garis kemiskinan.

Laporan World Bank tahun 2005 menyatakan bahwasanya Bangladesh telah membuat kemajuan mengesankan dalam pengembangan manusia dengan berfokus pada tingkat melek huruf yang bertambah, memperoleh kesetaraan jender pada dalam sekolah, dan mengurangi pertumbuhan penduduk. Tentunnya sedikit banyaknya ini adalah dampak dari gerakan ekonomi kerakyatan yang dilakukan Grameen Bank lewat pengembangan kredit ekonomi makro. Bahkan, World Bank yang sebelumnya memandang program ini secara sebelah mata kini mulai mengadopsi gagasan kredit ini. Lebih dari 17 juta orang miskin di seluruh dunia telah terbantu dengan program kredit mikro ini. Gerakan pemberdayaan kaum miskin yang diprakarsai Muhammad Yunus kini diadopsi oleh lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat miskin di seluruh dunia.

Pengalaman Grameen Bank tentunnya patut dicermati sebagai satu alternatif metodologi dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Terlebih Yunus juga telah menyarankan kepada SBY untuk lebih membuka kesempatan bagi masyarakat miskin dan usaha kecil menengah di Indonesia agar lebih mudah mendapatan kredit.

Artinya saatnya pemerintah kita mencoba mereplikasi keberhasilan program Grameen Bank dalam pengentasan kemiskinan di Bangladesh. Kegagalan pengentasan kemiskinan di Indonesia salah satunnya disebabkan oleh lemahnya program pemberdayaaan terhadap rakyat miskin.

Berbagai strategi yang dilakukan pemerintah mulai dari Jaring Pengaman Sosial (JPS), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) seringkali bersifat parsial atau sementara sehingga dampaknya tidak bersifat jangka panjang sehingga kemiskinan sulit diatasi. Disisi lain kalangan Perbankan juga tidak pernah memberikan akses dan kepercayaan terhadap usaha kecil dan menengah untuk mendapatan kredit dengan murah. Akhirnya kalo Bangladesh saja yang baru merdeka pada tahun 1971 saja bisa, kenapa Indonesia tidak bisa?.

Tidak ada komentar: